Selasa, Agustus 23, 2011

PR TERTINGGAL ANGGOTA LEGISLATIF


Orangtua yang telah berumur lebih dari 60 tahun itu dengan suara parau mengumpulkan kadernya untuk mengerahkan kadernya untuk memenangkan salah satu calegnya, dengan nada yang meninggi namun nafasnya terengah-engah dimakan usia, dia meminta teamnya untuk mengingat kembali materi jihad yang telah dipelajarinya.
Ini adalah jihad politik, saudara….!!!
Suaranya tentu tetap tinggi dengan nafas yang terengah-engah, usia 72 tahun telah jujur menampakkan aslinya. Para peserta saat itu dengan cermat mendengar, sebagian ada yang bingung dari mana duitnya, sebab kebetulan calegnya itu memang orangnya penuh semangat namun kantongnya pas-pasan.
Ditempat lain, seorang kawan saya yang bekerja di dunia kesehatan, bersama teamnya yang kompeten dalam mengusir jin, dan yang satu lagi meluruskan tulang yang keliru arahnya, ada juga yang ahli dalam dunia obat-obatan modern bekerja keliling desa menyuntik para janda tua, lelaki katarak, gadis-gadis yang sakit mag atau bayi kurang gizi, ada juga ibu-ibu yang sakit demam, sambil menyuntik dan memberi obat gratisan, rombongan kawan saya itu tidak lupa mengingatkan pasiennya untuk mencoblos jagoannya. Tanpa ada paksaan sedikit pun.
Di waktu yang lain, tepatnya lagi di malam hari, seorang lelaki paruh baya ditemani kawan-kawan seperjuangannya harus berjibaku dengan dinginnya malam, hanya untuk menempelkan stiker yang bergambar kawannya yang sedang menjadi caleg itu, ya hanya dengan peralatan sederhana, dengan lem yang dia beli dari warung sebelah, kemudian satu persatu kertas yang bergambar kawannya itu ditempel di setiap sudut jalan, yang kira-kira dapat dilihat oleh banyak orang. waktu istirahatnya dia simpan, untuk satu harapan yang lebih baik. Sementara itu si calon tidak muncul, kuat dugaan kalau tidak sedang rapat, ya mungkin sedang beristirahat mengumpulkan kekuatannya untuk kampanye lagi esok hari.
Cerita itu terjadi di Tahun 2009, sebagai tahun yang menjadi penentu babak sejarah Indonesia, di tahun itu ada pemilu legislative kemudian di susul pemilihan presiden. Keinginan yang terpendam dari orang-orang Indonesia saat itu begitu optimistis bahwa setelah pileg kehidupan mereka akan membaik, minimal itulah yang selalu dinyanyikan oleh team sukses sambil berbusa-busa. Dan benar, busanya itu mengandung bisa yang menyengat para pendengarnya yang sudah terkantuk-kantuk itu.
Tapi setelah itu…
Setelah tahun 2009 itu berlalu, optimism pun tergerus secara perlahan, indahnya janji yang dikarang para caleg beserta team sukses itu seakan-akan belum menampakkan wujudnya, baik jihad atau pun tanpa. Seakan cerita itu lahir hanya dari sebuah ilusi pikiran semata, alhasil, para pendukungnya itu pun kembali ke dalam dunianya, dunia nyata yang penuh perjuangan sambil terseok-seok melupakan janji yang dikemas dalam cerita sang caleg itu, terselip dalam hati mereka rasa sedih, dan merasa dibodohi.
Bagi mereka yang menjadi tukang tabor pellet ikan, dia kembali ke profesinya, lelah menunggu perbaikan, pun juga demikian mereka yang menjadi bakul ayam, tukang bikin jamur putih, dan bakul buntut sapi. Para team sukses berbusa-busa tadi yang diprediksikan nasibnya akan membaik  pasca pileg, ternyata bernasib sama, nasibnya ternyata tidak ikut tergeret seperti halnya jagoannya yang dia bela itu. dia kembali kedunianya yang dulu, jadi tukang ngarit, atau menjadi guru ngaji.
Atas dasar itu kemudian Cerita 2009 ini yang seharusnya berhenti di tahun itu juga, ia kembali berteriak di tahun ini, tahun 2011, baik kisah andi nurpati, dewi yasin limpo (DYL), Arifinto, dan serba-serbi lainnya. seolah punya nyawa sendiri.
Tentu saya tidak hendak membicarakan mereka, sebab pengamat yang lebih pintar banyak mengulasnya, saya hanya ingin mengulas kembali sisi manusiawi yang luput dilihat media, karena tidak signifikan menurut kalkulasi pasar. Ya cerita itu ada di sudut-sudut desa yang mereka ceritakan kembali kepada saya.
Rom, aku kok kesel ya punya tetangga anggota dewan
Ungkapan itu meluncur bebas dari mulut lelaki berusia kurang dari separuh abad itu.
Dia baru saja beli motor baru, beli tanah lagi, sekarang malah punya mobil anyar. apa gak mikir ya team suksesnya dulu kayak pak tsalast yang sampe sekarang susah dan gak punya kerjaan tetap…?
Saya bingung jawabnya karena memang persoalan pikiran hanya yang bersangkutan dan Allah yang tahu. Tapi ungkapan itu meletupkan memori lama, kawan saya yang menjadi caleg tapi gagal kini harus berjibaku membayar hutang-hutangnya yang sudah berada di ambang waktu itu. Namanya Bu Nushrah. Dihadapan kawan-kawannya dia sempat menangis karena beban itu harus dia tanggung sendirian.
Jauh-jauh hari sebelum 2009 itu terjadi, di sudut ruangan sederhana, salah seorang ustadz memaparkan panjang lebar tentang organisasi islam, yang didalamnya kuat sekali unsure ukhuwah, ta’aruf dan takaful, beliau kemudian menguatkan dengan satu hadist bahwa seorang  muslim dengan muslim lainnya seperti satu jasad, jika satu sakit maka bagian lainnya akan ikut merasakannya.
Namun sudahlah…. sirah dan hadist itu hanya untuk materi pengajian saja, sebab untuk membawanya dalam dunia ini membutuhkan kompetensi tertentu yang tidak semua bisa orang menguasainya, butuh jam terbang dalam dunia praktek yang lama. ungkap saya dalam hati, menghalau segala macam pikiran yang mulai meneracau kemana-mana.
Namun pikiran saya yang meneracau itu lagi-lagi terlalu perkasa untuk ditenangkan, dia kembali dengan penuh kekuatan mengumpulkan memori yang terkait, ingatan saya pun meloncat ke salah satu sekolah, seorang kepala sekolah yang meminta saya datang ke sekolahnya itu memperbincangkan anggota dewannya yang dinilai leletan kalo kerja, pada saat yang lain, kawan saya yang berdomisili di wilayah barat pun tidak kalah sewotnya, proposal sekolahnya harus dititipkan ke Aleg yang bukan dari partai jagoannya.
Suara fals ini selalu mengkhawatirkan saya jika terjadi merata dan itu kenyataannya. Hampir-hampir saja semua dialog orang yang mengerti selalu berbicara tinggi, mulai dari persepsi high profil, susah dikasih tahu, kerja lamban, sampai susah dimintai bantuan.
Rom, anggota dewan saya yang sekarang ini kok gak tahu nongol di Koran ya…. Ungkap salah satu kawan saya, seorang PNS namun loyalis partai lokal. Di mata saya ungkapan itu sadis.
Ya aku gak ngerti Tanya saja yang bersangkutan… jawab saya
Jawaban itu sekaligus menutup pembicaraan politik dan meloncat ke dalam dunia bisnis, dunia penuh dengan gairah, ambisi dan duit, dan itu yang bikin hidup semangat.
Kenapa kemelut ini bisa hadir menerabas segala norma yang melarang segala bentuk konflik yang berakar dari kebencian. Sangat mungkin diawali dari disparitas antara harapan, jargon dan ajarannya terlalu jauh berjarak dengan kenyataannya. Apalagi secara psikologi, manusia religi biasanya lebih memilih untuk diam daripada “jalukan”. Namun psikologis ini bukan tidak dimengerti, namun sangat mungkin tidak dipakai, karena konsekwensinya berat untuk waktu, tenaga, pikiran dan kantong.
Sangat disayangkan jika cerita indahnya islam harus patah oleh cerita ini, namun bagi saya inilah ujiannya untuk tetap konsisten meyakini sebuah ide yang pernah terrealisasi di zaman yang tidak pernah saya rasakan, beberapa abad silam. Sebab waktu punya caranya sendiri untuk mengingatkan.

Senin, Agustus 22, 2011

POLITISI

 
Beberapa saat yang lalu, saya memberanikan diri minta kepada salah satu Anggota dewan untuk membantu kegiatan buka bersama yang diadakan oleh warga setempat. Jawabannya cukup mengejutkan;
Tidak bisa membantu, dengan alasan tidak ada uang”.
Respon saya pertama kali dalam hati saya adalah rasa kasihan dan keinginan kuat untuk memahami. Jawaban ini tentu bukan jawaban sederhana, sebab hingga saat ini masyarakat terutama konstituen masih belum rela jika jagoannya tampak tidak seperti dewa yang serba bisa membantu, apalagi mereka sendiri memang terjun langsung berpeluh ria di bawah terik matahari untuk berkoar-koar berkampanye, dan rela bermalam-malam menghadapi tusukan angin malam hanya untuk menempel poster jagoannya itu supaya terpilih menjadi aleg. Namun dalam kacamata saya itu wajar, apalagi mencari  harta halal dalam dunia politik bukanlah perkara yang mudah, namun saya pun tidak rela jika politisi baik ini menjadi bulan-bulanan konstituennya hanya karena harus milah-milah harta mana yang halal dan mana yang haram yang kemudian berujung pada minimnya penerimaan konstituen saat mereka membutuhkan bantuan.
Saya sepakat jika aleg tersebut tidak berhenti pada alasan financial yang terbatas, sebagai orang yang bermimpi Indonesia yang lebih baik, perlu ada pikiran setelahnya, yaitu perlu ada terobosan untuk menjembatani antara keterbatasan dengan permintaan dana dari konstituen yang memang tidak mungkin dinafikan, apalagi diharamkan dengan pungsinya selaku pemegang amanah rakyat yang menjaga kehalalan setoran.
Sangat dimungkinkan jika kelincahan dalam melihat peluang sumber uang adalah factor yang paling menentukan dalam membangun kekuatan financial anggota dewan, ini persoalan skill dan kecerdasan, terlepas dari kapasitasnya dalam memahami persoalan hukum Islam yang mengatur harta halal dan haram.
Saya kenal sama anggota dewan yang namanya tidak perlu saya sebutkan. Meski dia saat ini tidak lagi menjadi anggota dewan, namun namanya masih dikenang di kalangan konstituen, karena ditangannya cukup banyak harapan konstituen yang direalisasi, seperti permodalan, bantuan social, pertanian dan lain sebagainya. Kejeliannya dalam melihat peluang sumber dana yang kemudian digabungkan dengan kecerdasannya dalam memahami perundang-undangan, membuatnya selamat dari lirikan  aparat. Karena yang dilakukannya semua sesuai dengan aturan. Namun sayangnya kemampuan itu tidak bisa disamaratakan, sebab itu indra pengedus uang setiap orang berbeda-beda, apalagi kalau digabungkan dengan kecerdasan dalam melihat celah perundang-undangan dan jam terbang.
Kembali ke persoalan tadi, yang jadi pertanyaan adalah apa upaya untuk meningkatkan kemampuan financial anggota dewan tanpa harus melupakan peranan utamanya selaku perwakilan rakyat..?
Langkah Pertama yang dapat dilakukan oleh anggota dewan adalah mengenal pelaku usaha baik itu investor, pemilik usaha atau pun para agen marketing. Semua ini harus dikenal karena ditangan mereka sumber-sumber keuangan itu ada. Keterbatasan kenalan dengan para pelaku usaha akan sangat mungkin berdampak pada keterbatasan pada financial untuk membiayai kegiatan-kegiatan operasional yang terkait erat dengan konstituen.
Selain itu Perlu dilanjutkan pada langkah kedua yaitu kenal dengan manusia-manusia yang membutuhkan produk dari pelaku usaha yang sudah dikenalnya itu. Contoh, Jika Anda kenal sama pemilik perusahaan farmasi, maka selaku anggota dewan wajib mengenal kepala rumah sakit, baik swasta atau pun negeri. Begitu pun jika Aleg punya kenalan trainer, bisa juga dihubungkan dengan beberapa pimpinan bank cabang lokal untuk mentraining seluruh karyawannya. jika sukses Aleg tersebut akan memperoleh fee penjualan. Menurut pandangan saya itu dana halal. Jadi hanya kenal saja tidak cukup, Aleg harus menghubungkan dan deal.
Saya pernah kenal dan dekat dengan salah satu anggota dewan, saat itu saya selaku ketua organisasi pasti membutuhkan biaya operasional organisasi baik yang langsung saya pimpin atau pun yang ada di leading sector. Berat rasanya kalau mengandalkan iuran anggota. Untuk keluar dari persoalan itu saya biasa silaturahim dan tukar gagasan dengan anggota dewan dan Alhamdulillah bantuan itu cukup lancar mengalir. Menurut pengakuannya, beliau cukup banyak terbantu dengan usaha mengenalkan antara pelaku usaha dengan pihak yang berkepentingan dengan produk dari pelaku usaha tersebut, baik kepala dinas mau pun komunitas. Jika tidak begitu, mungkin nasibnya sama dengan beberapa kawannya, terpental setelah tergagap-gagap dimintai bantuan oleh konstituennya.
Langkah Ketiga dunia politik ini dalam pikiran saya adalah dunia maneuver, ya maneuver untuk mengatasi kebuntuan dan kesulitan. Salah satu maneuver yang paling kuat saat ini adalah kemampuan untuk menguasai dan mengkondisikan rapat. Beberapa politisi saya akui cukup handal dalam membangun team untuk bermanuver. Kemampuan ini bukan hanya bisa membungkam para politisi busuk, namun yang terpenting adalah menumbuhkan perasaan terbantu pada diri politisi lainnya melibatkan Aleg tersebut pada setiap kebijakan yang akan diambil, serta menumbuhkan perasaan yang dihantui ketakutan pada diri politisi lainnya jika tidak melibatkan Aleg tersebut dalam setiap kebijakan yang diambil, ketakutan itu timbul dari keganasan retorika yang dimiliki aleg tersebut dalam mempermainkan logika politisi lainnya.
Saat kemampuan maneuver itu ada pada diri Aleg, sangat dimungkinkan jika rapat-rapat non formal yang membahas ranperda pun akan melibatkan si Aleg tersebut. Jika sudah demikian, Aleg tersebut bisa mendapat akses APBD lebih besar. Secara hukum yuridis selama tidak tersandung pidana korupsi, itu semua halal, sementara secara de facto justru hukumnya wajib. Namun sayang, logika jumlah besar akan mengalahkan jumlah kecil cukup mengganggu pikiran saya, dan itu yang sering dijadikan oleh manusia bermental ayam sayur sebagai alasan untuk tidak berambisi menang.
Langkah Keempat adalah mengenali kembali kekuatan dan kekuasaannya selaku anggota dewan. Sekitar satu pecan yang lalu salah satu pimpinan DPR berbicara akan menggunakan kekuatan dan kekuasaannya untuk mendorong Indonesia mengakui kemerdekaan Kosovo. Rasanya bahagia dan bangga punya pimpinan macho semodel itu. Begitu pun dengan aleg lokal, perlu rasanya menghitung-hitung kembali kekuatan dan kekuasaanya.
Politik adalah dunia symbol dan sinyal. Disini bisa dimengerti kenapa kepala dinas enggan sekali berurusan dengan anggota dewan, sebab selain akan berhadapan dengan srigala lapar juga kekhawatiran akan nasibnya yang diombang-ambingkan lobi aleg kepada walikota atau bupati.  
Di sini berarti segala senyuman, lirikan, bahkan gertakan pun perlu dikapitalisasikan menjadi kekuatan Aleg.  Caranya dengan mengetahui sumber kesenangan dan sumber ketakutan subjek, serta memasukkan sugesti bahwa aleg tersebut selain menjadi partner yang bisa memberi manfaat, jika bisa menjadi sumber malapetaka jika berurusan dengan aleg tersebut. Ya sesekali pake jargon “ayo bung ribut kembali, tapi itu sesekali saja, kalau urusan kemaslahatan diusik. Jika kondisi sedang adhem dan kondusif, barulah pake jargon ayo rebut kembali.  
Langkah Kelima membangun team politik yang progresif menjadi penutup dari ketiga langkah di atas. Team ini bukan hanya mengumpulkan segala kekuatan yang ada pada aleg, juga menjadi bagian yang mengatasi kelemahan aleg tersebut.  Mereka yang terlibat dalam team tidak harus dari kalangan aleg sendiri, namun dari manusia yang potensinya berada pada celah lemah yang dimiliki aleg tersebut, atau potensinya terletak pada kerja-kerja yang akan didelegasikan kepadanya, team ini mungkin dinamakan staf ahli.
Staf ahli ini yang menganalisa, mempersiapkan bahan omongan di forum untuk aleg tersebut, sekaligus memperkuat dengan data-data akurat. Catatan yang akan dilontarkan aleg di forum biasanya ada dimeja aleg beberapa jam sebelum rapat dimulai, jadi aleg menerima matangnya saja.  Mereka tentu digaji secara layak dengan ukuran keahlian, bukan UMR, karena ilmu dan kecekatan mereka saat bekerja belum bisa disamakan dengan pegawai pabrik. Tapi sepertinya Gaji ini yang sering membuat aleg agak enggan menunjuk staf ahli. Asumsi bahwa mereka sudah punya banyak pengeluaran cukup menjadi kata pamungkas untuk tetap bekerja secara tradisional. Mungkin logikanya lebih baik alon-alon tapi murah, dari pada banter tapi mahal.
Jujur saya memuji kesabaran aleg yang tidak punya staf ahli, sebab mereka harus ketemu konstituen sendirian, memilah-milah proposal sendirian, sekaligus mengantarkannya ke kepala dinas juga sendirian, membaca draft perundang-undangan daerah sekaligus mempersiapkan bahan gagasannya di forum juga sendirian, Ini manusia superman yang hampir mustahil saya temui mengingat jatah waktu semua manusia hanya 24 jam dan keterbatasan kekuatan fisik dan psikis yang semakin meranggas di makan usia.  
Sebelum menutup tulisan ini, saya teringat ada cerita seekor singa ganas yang menggunakan cakar dan segala keahliannya untuk menangkap tikus-tikus.  Sebanyak apa pun singa makan tikus, karena yang dimakan itu tikus, maka singa itu akan kembali lapar jika waktu mulai beranjak sore. Singa itu barangkali tidak akan mengalami kelaparan lagi jika keahliannya itu digunakan untuk menerkam kijang. Cerita super pendek ini mungkin banyak tafsirnya, dan tafsir itu saya kembalikan kepada pembaca.

Jumat, Juli 29, 2011

GURU

 Guru merupakan elemen sejarah dalam miniature jiwa manusia, tidak semua orang dapat dikenang abadi seperti halnya guru; kebaikannya, perhatiannya, keramahannya atau pun keganasannya menghukum mereka yang embalela, seperti saya yang pernah ditampar dan dipajang di pinggir lapangan, perasaanku saat itu bak seonggok daging yang dihina dina kawan saya, menertawakan penuh kemenangan,
Si Romi akhirnya kena sialnya setelah lama berpetualang...  mungkin itu kira-kira isi hati kawan-kawan saya. Namun dari sana saya belajar bahwa untuk beraksi butuh perencanaan dengan runtutan scenario yang lebih detail. Setelah itu dengan izin Allah petualangan saya hampir-hampir jarang terendus sebagai murtakib kabiir.
Dalam bahasa Arab, Guru memiliki banyak kata, seperti muallim; orang yang memberi ilmu, mudarris orang yang memberi pembelajaran, bahkan murabbi, orang yang merawat dan menumbuh kembangkan jiwa raga manusia. Kata Guru sendiri diambil dari bahasa sansekerta yang berarti berat. Dapat dimaknai bahwa mengajar adalah tugas berat yang bisa dipikul oleh manusia berjiwa tangguh yang memiliki kemampuan mengasuh.
Dapat dimengerti jika mereka hadir dalam setiap relung jiwa manusia, karena mereka yang memindahkan peradaban dari generasinya kepada generasi kita yang lebih muda, secara tidak langsung membangun arketif (meminjam istilah Jung) dalam jiwa generasi baru yang telah berlangsung sejak kebudayaannya dimulai. Oleh sebab itu kenapa setiap mimpi pada manusia yang bersuku sama selalu ada kemiripan. Ya.. mereka yang mengajari kita tulis menulis, yang mengajari berhitung, manajemen konflik dengan kawan, belajar untuk menata buku, mengajari sikap yang benar saat menghadapi ujian, mengajari sikap hormat kepada siapa pun orang yang lebih tua, dan secara tidak langsung mengajari cara hidup, serta cara berfikir.
Bisa dikata bahwa guru dalam imaji manusia adalah gambaran dunia ideal, di mana setiap ada kesulitan guru hadir membimbing, setiap ada persoalan guru hadir sebagai pemecah. Ia hadir dalam sosok yang teduh, namun bisa berwujud mengerikan dan berwibawa melebihi orangtua yang melahirkan, tak heran anak-anak lebih takut dilaporkan kepada guru daripada mata melotot orangtuanya.
Malam ini, udara semakin dingin, meminta manusia untuk segera berhenti bekerja dan memaksa berangkat ke peraduan, mungkin saja dinginnya malam ini persis dirasakan oleh guru-guru saya yang pernah mengajar saya di sekolah dasar dulu, namun dingin mereka bukanlah dinginnya saya, dinginnya mereka bisa jadi diartikan sebagai dinginnya dunia yang tidak pernah ramah menyapanya.Walau saya mengerti betul bahwa ada sisi lain yang membuatnya memilih guru sebagai jalan hidupnya, yaitu makna, dari makna itulah yang membuat pengabdian mereka terkenang abadi dalam ingatan manusia.
Seiring dengan perjalanan manusia, keinginan pun semakin banyak, guru pun semakin realistic dalam memandang dunianya, anak-anak semakin besar, dan tuntutan pun semakin mendesak, pemerintah seakan mengerti akan abdi pegawainya, dia menaikkan gaji guru, kehidupan layak terpapar sudah di depannya, namun persoalan guru tidak berhenti di sana, rupanya ada yang kurang tersiapkan dalam menghadapi kemilau itu semua, yaitu mempersiapkan makna (meminjam istilah Frankl) dalam jiwa mereka di saat mereka menghadapi anak-anak yang lugu dan di saat mengambil uang gaji. Hasilnya jelas, kehampaan eksistensial dalam hidup guru kini semakin menyeruak.
Tidak seperti halnya presiden yang dikelilingi oleh team yang setia mensuplai informasi yang diperlukan untuk mempermudah segala urusan kepresidenan, guru pemain sendirian, ia kerjakan sendiri RPP, kerjakan sendiri absensi, menilai sendiri nilai ujian sekaligus mengoreksi dan membuatkan soal, namun pada saat bersamaan, anaknya yang mulai beranjak besar merengek minta dibelikan handphone. Dengan gaji yang sudah dipotong sana-sini, persoalannya kemudian berpindah ke pikiran, pikiran itu yang membuat para guru memiliki penyakit khas, diabetes, darah tinggi, darah rendah; hasil kehampaan yang tidak diantisipasi.
Ada benarnya juga pandangan Psikolog Yahudi yang bernama Victor Frankl itu, menurutnya, pleasure principle (keinginan mencari kesenangan), atau striving for superiority (perjuangan untuk mencari keunggulan) bukanlah hal mendasar dari inti persoalan manusia. Keduanya, hanyalah bentuk terselubung dari persoalan dasarnya, yakni kehampaan eksistensial. “Kadang-kadang, terganggunya upaya orang terkait untuk mencari makna hidup berubah menjadi keinginan besar untuk berkuasa, dibarengi dengan salahsatu bentuk paling primitif…,yaitu keinginan memperoleh kekayaan.”.
Namun dengan keterbatasan mata saya memandang, saya dapat mengerti kehampaan itu terjadi, sebab setelah sekian tahun lamanya guru terus dipaksa untuk menelan adagium guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa itu diartikan sebagai pekerja keras dengan gaji minimalis, setelah sekian tahun hanya bisa meradang, fajar kebebasan itu menyingsing, dan itu diartikan bahwa peluang untuk mendapat kesejahteraan itu semakin dekat. Dan peluang itu sudah terasa hasilnya. Perubahan yang terlalu cepat menuju hidup yang berkecukupan ternyata selalu menyisakan satu persoalan, yaitu selalu lalai untuk mengkondisikan jiwanya bahwa inti dari itu semua adalah untuk memudahkan hidup, bukan tujuan.  Seperti halnya reformasi bukanlah tujuan tapi hanya sarana. Pertanyaannya adalah, setelah mendapat gaji cukup, mau ngapain lagi? Tidak ada jawaban.
Adalah kawan saya yang memilih profesi menjadi guru, niatan suci ini hadir berkelebat kuat dalam alam pikirannya selepas kuliah; dunia menurutnya dapat ditandaskan dengan semangat membara. tekadnya untuk tidak menjadi PNS selalu menggedor jiwanya yang aktivis itu. Keputusannya kemudian jatuh kepada sekolah Islam yang berbasis intergral, sayang rupanya hidup ini dalam beberapa segi dapat dimaknai sebagai transaksi kertas berangka untuk memudahkan hidup. Hal itu tidak didapatkan dalam sekolah yang baru mengerti bahwa jihad dan ikhlas posisinya berlawanan dengan kemudahan hidup. Kini idealismenya tergadai, tunduk dibawah tuntutan istrinya yang menginginkan kendaraan untuk mobilitas, tunduk oleh desakan mertua yang kasihan melihat morat-maritnya kehidupan.
Rupanya hingga kini, dua idealism antara makna dan kemudahan hidup belumlah menjadi kawan baik dalam dunia guru. Dahulu mereka memilih hidup sederhana dengan penuh makna kerena memang itulah nyatanya, bagi yang tidak ingin menjadi guru dengan segala kesederhanaannya, pergilah menjauh. Namun kini kemudahan itu tampak nyata, dengan idealismenya yang tergadaikan, anak hanya dipandang dari skor 1-10, semakin kecil angkanya semakin kecil pula nilai anak di depan matanya.
Di Babakan Kalangsari, Monumen MADRASAH IBTIDAIYYAH MUHAMMADIYAH MANBAUL ULUM itu masih berdiri kokoh, telah ada perubahan di beberapa sudut bangunan, meski tidak banyak. namun aura kesederhanaannya masih kuat memancar. Ukurannya tidaklah terlalu besar namun berjuta-juta memori hadir dari sana, seperti dinamit meledak sesaat setelah mata saya terpapar bangunan yang tidak banyak berubah itu, dari sana pula jejak-jejak ribuan manusia mengharu biru peradaban, ada yang menjadi pengusaha meubel, pedagang kain, PNS, Ustadz, Guru, Ibu rumah tangga, tukang becak, tukang batu, tukang minyak, aktivis LSM, bidan, dokter, dan sedikit diantara muridnya suka mabok dan madat, keaneka ragaman ini mungkin saja tidak sedikit pun terbayang oleh guru-guru pada saat itu kami yang masih mungil dan lucu itu akan bertebaran di muka bumi dengan beragam jejak yang tidak ada di dunia pada saat mereka masih muda.
Hmm bangunan mungil ini menjadi tempat segala suasana saat saya mulai belajar mengerti arti kehidupan, saat saya bermain sepak bola, piket kelas, dimusuhi dan memusuhi, gelut, bolos, mencuri jambu, dikejar petani bergolok karena ketahuan mencuri mentimun, mencari kawan dekat, dihukum guru dengan alasan yang bervariatif, dan belajar arti cantik dan ganteng itu dari rangking, semakin besar angka rangkingnya, semakin jelek wajahnya terlihat di mata kami.
Adalah Pak Asep yang mengajari saya menulis dan berhitung di kelas satu, -Bapak saya yang menjadi kepala sekolah, awalnya saya hanya menjadi anak titipan saja, -. Saat itu saya merasa lebih bangga mendapat nilai tujuh dibanding delapan, saat itu pula saya dipaksa mengerti sambil menggerutu bahwa nilai delapan ternyata lebih tinggi dari tujuh, namun pak asep seakan tidak peduli, ia raih kembali tangan saya, dibimbing bagaimana cara menulis dengan pensil.
Pun Juga dengan Pak Isak, yang pernah menjadi guru kelas, seorang punisher yang hebat, di tangannya, murid lelaki bandel, mbalela, tukang ngompas harus terkaing-kaing mendapat pukulan mistar kayu yang panjangnya satu meter itu, selain mengajar dan menghajar murid lelaki bandel, beliau secara konsisten mempush up kan seluruh murid laki-lakinya jika bel pulang berbunyi, bak begundal yang tertangkap, selain di push up, punggung kami pun dihajar mistar kayu, tidak peduli anak ustadz, anak RT, anak pedagang semuanya yang berjenis kelamin lelaki harus merelakan tangannya push up sambil punggungnya dihajar mistar kayu tanpa ada satu pun yang membela kami, tidak tukang es tidak pula tukang gorengan, mereka semua ikut menertawakan kami, ya menertawakan kami yang tengah menjadi objek tertindas. sementara yang murid perempuan dengan bebas nyelonong pulang penuh kemenangan, sesekali mata mereka menatap kami penuh kepuasan. beruntung, para pejuang HAM belum berpikir untuk mengarahkan proyeknya ke dunia pendidikan.
Hari ini semakin malam, ketika pikiran terus memburu membuka file-file lama yang berada dalam tumpukan memori lapuk ini, memakan waktu untuk mengingat kembali memori itu, namun seperti ekstase yang semakin lama semakin bersemangat untuk kembali menghadirkan kenangan indah itu dalam pikiran yang ada dalam kepala ini. Ups saya baru sadar bahwa di setiap sekolah selalu ada yang bukan sekolah, mereka adalah tukang es, tukang sirop, tukang cendol, tukang rambutan, tukang game watch, entah kemana mereka saat ini dan bagaimana kehidupan mereka, Allah sering membuat keindahan hidup ini terbuat dari untaian hidup manusia yang saling bertemu untuk kemudian terpisah kembali, diingat namun tidak bisa dilacak.
Guru saya bukanlah orang besar, dalam sejarah pun mereka hanya menjadi fenomena sepintas, sepintas hanya pada manusia yang pernah menjadi siswanya, setelah itu hilang begitu saja ditelan hukum sejarah. Namun justru ketidakbesaran itu untuk membangun kebesarannya dalam jiwaku ini yang selalu meronabirukan hati, jika terdengar guru yang hidup bersusah payah di dunia saat ini; andai saja saya bisa membantu.
Jika saja idealism dan makna itu dapat kawin, amat dimungkinkan guru saya yang kini hidup di usia senja ini tidak lagi hidup dalam ketergantungan uang pensiunan yang tak seberapa itu, namun pengandaian itu hanyalah sebuah ilusi semata, sebab sejarah berputar hanya untuk peristiwa, bukan untuk generasi.  
Tahun demi tahun, setiap manusia selalu memburu keinginannya yang tidak berkesudahan, namun guru-guru saya telah beranjak tua, mereka mulai menanyakan nama saya jika saya sapa mereka di perempatan jalan, sesaat setelah  dia turun dari angkot yang berhenti di pojok kiri pasar Pancasila, dengan tas kulitnya yang lusuh itu. Sakit rasanya tidak diingat, namun saya dapat mengerti bahwa pikirannya sudah banyak tersita oleh pesoalan hidup yang berjejal-jejal itu.
Malam ini, pukul 23:02 guru-guru saya sedang istirahat, sambil menanti esok dengan cerita yang sama, mengajar anak-anak menghantarkan ke dunia lebih baik, namun tidak untuk dunia mereka.. sementara tetes air mata ini tidak lagi terbentung, sedih tiada tara, saya belum bisa berada di sisinya saat mereka dalam kepayahan karena usianya yang semakin senja,…

Selasa, Juli 19, 2011

CINTA


Beragam teknologi sudah banyak tercipta untuk mempermudah urusan manusia. Dengan adanya Hand phone, anda tidak perlu mengeluarkan banyak energy untuk berkomunikasi, hanya dengan hitungan detik, pesan anda dapat diterima oleh kawan anda yang berada ribuan mill di seberang pulau, begitu juga dengan teknologi internet, teknologi transportasi dan teknologi lainnya.  Namun untuk mempermudah urusan cinta, rupanya teknologi hingga saat ini belum bisa banyak berbicara; hingga kini belum ada mesin cinta atau pun bengkelnya.
Urusan cinta memang bukan sekedar kalkulasi, bukan juga sekedar urusan hubungan badan, namun jauh dari itu,variable cinta terlalu kompleks untuk dikategorisasikan.
Adalah kawan saya yang dulu jatuh cinta kepada teman sekelasnya, teman sekelasnya itu, setahu saya tidak cantik-cantik amat, juga tidak cerdas, jauh dari romatis, perilakunya terlalu biasa untuk menjadi bahan perhatian. namun ketika saya Tanya apa alasannya mencintai dia? Sesaat dia merenung, jawaban itu belum muncul juga, mungkin saja dia bingung, kosakatanya terlalu terbatas untuk menjelaskan definisi cinta yang kompleks itu.
Berbeda dengan perasaan benci yang begitu mudah dilacak akar penyebab kebencian itu, akar penyebab cinta begitu rumit untuk dilacak, kapan cinta itu hadir dan kenapa cinta kepada seseorang itu muncul dihati begitu saja. Ia, semacam perasaan yang tidak bisa didefinisikan, cinta lebih mudah dialami dari pada didefinisikan. Karena sukarnya didefinisikan, maka jangan pernah berharap keluar pikiran jernih dari lelaki yang sedang jatuh cinta, dan kenyataannya begitu.
Malam ini, jam sudah menunjukkan pukul 20;55, pergulatan manusia dengan cinta tidak berhenti sesaat pun, cinta pun tidak pernah berhenti bermain-main dengan manusia, ia berlaku seperti arus yang menghayutkan manusia kadang ke tengah lautan, kemudian dihempaskan kembali ke daratan, tak jarang juga ia membawa manusia jauh ke samudera luas, lepas tanpa bisa kembali.  

Derivasi Cinta
Meski sejarah itu versi kisah masa lalu yang disepakati, begitu kata Napoleon Bonaparte, babak-babak dalam sejarah manusia bisa jadi hanya derivasi dari perasaan manusia, tepatnya bersumber dari perasaan cinta dan benci, sederhana memang, namun perasaan itulah yang mendorong para pria penakut menjadi pemberani, pemuda gagah menjadi melankolik, bangsa barbar menjadi pengelola kekuasaan. Dari perasaan itu, muncul penaklukan, pembantaian, kisah legendaries yang mengharu biru.
Kisah Romeo dan Juliet adalah drama cinta yang dikarang Shakespeare, cukup melegenda hingga kini, pun dengan Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck; Roman yang dikarang oleh Hamka. buku Tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer di masa perjuangan,  Di era saat ini; Ayat-Ayat Cinta, Di Atas  Sajadah Cinta, Ketika Cinta Bertasbih karya Habieburrahman ElShirazy, semuanya berhasil mengharubirukan hati, seolah hanyut dalam instrument cerita yang dibuatnya dengan sepenuh hati.
Roman dan lagu cinta kini tumbuh subur menggempur alam pikiran manusia bahkan merajalela, meski memang dapat didefinisikan roman picisan, manusia lurus yang sebenarnya tidak butuh-butuh amat dengan roman itu, terus dikawal, dan ternyata apa pun yang bertema cinta, selalu mengundang simpatik jiwa untuk mengikuti, selalu meledak, seolah bersenyawa, produser dan penulis pun selalu menghadirkan cinta sebagai tema utama untuk mencari dolar. Begitulah nyatanya, sebab cinta berarti membicarakan hal dasar yang diinginkan manusia, mereka ingin dicintai dan mencintai. Basically  
Dalam konteks yang lebih meluas, Mungkin Anda belum tahu alasan Hulagu (panglima mongol) sangat bernafsu menaklukkan wilayah muslim dan kejam setiap kali dia berhasil menguasainya, yaitu : bisikan manusia yang dicintainya, Ibu Hulagu, istri dan sahabat dekatnya, Kitbuqa adalah kristen fanatik yang memendam kebencian mendalam terhadap orang muslim. Juga para penasehatnya banyak yang berasal dari Persia yang memang berharap dapat membalas dendam atas kekalahan mereka satu abad sebelumnya ketika persia ditaklukan oleh pasukan muslim pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Bisikan-bisakan dendam dari significant other telah merasuki setiap urat nadi Hulagu. Dia bantai umat Islam.
Pun demikian, hanya dalam waktu beberapa tahun, yang dibantai itu belajar untuk menyerahkan cintanya sepenuh jiwa kepada Tuhannya yang menggenggam nyawa seluruh makhluk, kini ketakutan tidak lagi ada pada kematian, justu ketakutan mereka berada pada pertanggungjawaban kehidupan setelah kematian. Petualangan Mongol yang “beprestasi” mengakhiri khilafah Abbasiyah itu, harus berakhir di Ain Jalut tanpa bisa bangkit kembali hingga sekarang.
Begitu juga dengan kisah cinta segitiga Ken Arok, Tunggul Ametung dan Ken Dedes yang berujung pada episode berdarah; pembunuhan tunggul ametung, semuanya dipahami menjadi peletup berdirinya kerajaan singhasari di Malang.
Tidak jauh berbeda, perang Bubat yang menjadi pemicu kekesalan hati antara suku sunda dan jawa, menjadi akar kemunduran kerajaan majapahit tidak bisa lepas dari Raja Hayam Wuruk yang tidak bisa lepas dari pandangan pertama kepada Dyah Pitaloka Citraresmi putri Prabu Linggabuana dari Kerajaan Sunda Galuh. Namun harapan itu harus berhenti dalam benak, ambisi sumpah palapa Gajah Mada menghendaki kerajaan galuh harus takluk. Ego pasukan galuh terusik,.. mereka memilih mati untuk sebuah harga diri yang mereka jaga. Pasukan balamati kerajaan Sunda Galuh dibantai bhayangkara, Dyah pitaloka bunuh diri karena harga dirinya dan cintanya memang bukan untuk Hayam Wuruk, tapi untuk Saniscara. Hayam Wuruk hanya bisa merenungi kejadian yang baru saja dia saksikan. Akibat dari itu, hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada merenggang. Cerita Cinta dan Ambisi telah membawa babak baru dalam hubungan jawa sunda yang dipelihara selama berabad lamanya.
Mengelola Cinta
Terlepas dari misteri cinta, manusia jika mau tetap saja bisa mengelola cinta; sebab aturan dasarnya; semuanya bisa diatur kecuali yang Maha Pengatur.
Erich Fromm dalam buku larisnya (the art of loving) menyatakan bahwa cinta memiliki 4 gejalan Care, Responsibility, Respect, Knowledge (CRRK). Mudahnya jika ada orang mengaku mencintai seseorang, namun pada kenyataannya dia tidak memiliki rasa hormat sedikitpun pada orang yang dicintainya, bisa jadi rasa cinta itu hanyalah dusta.
Adalah kawan saya yang saat ini sedang bermasalah dengan istrinya, contoh kegagalan dalam mengelola cinta.
Kejadiannya terjadi beberapa saat yang lalu, saat saya jalan-jalan, bukan untuk belanja, bukan juga untuk cuci mata apalagi cuci muka, tapi untuk menyegarkan kembali pikiran saya yang sudah lama tidak terjamah oleh buku sastra. Kawan saya yang beristri ini, membonceng gadis. Itu saja.
Kejadian singkat itu rupanya mengingatkan saya pada kejadian beberapa bulan yang lalu, saat itu, tentu selaku teman merasa tidak nyaman jika keluarganya tidak berjalan baik tanpa ada kepastian, anak-anaknya dididik dengan penuh kegamangan sikap.
“Pak, menurut saya sebaiknya sampeyan itu segera membuat keputusan, cerai atau rekonsoliasi”
Saya memberi saran
“Kasihan anak-anak pak” imbuh saya.
Saat itu dia tidak banyak menimpali, sebab pembicaraan kala itu ngaler ngidul dan nyantai.
Kejadian beberapa saat yang lalu itu, dimungkinkan hadir karena kegamangannya untuk mengambil sikap. Bimbang antara cinta yang telah beranak pinak dan benci karena sikap yang tidak bisa dikomunikasikan, bimbang antara mencintai anak-anaknya dengan ketakutan untuk dinilai buruk karena kegagalannya untuk membina rumah tangga, gamang antara kebutuhan akan cinta yang bisa dia dapatkan dari gadis itu, dengan keraguan untuk memutuskan cinta lamanya secara resmi.  Aturan main perlu dimengerti; JIKA GAGAL MENGELOLA CINTA, CINTA AKAN MENGOMBANG-AMBING. Ia butuh ketegasan.
Ketegasan memang memerlukan ongkos untuk dibayar, namun ketegasan memiliki sisi lain, yaitu kebebasan akan belenggu dari persoalan yang ada. Dari sisi ini, rupanya beliau lebih memahami ongkos daripada konsekwensi. Namun Dia lebih memilih untuk membiarkan dirinya hanyut dalam diaroma cinta yang telah membawanya ke kota ini, walaupun seharusnya dia sadar bahwa lelaki normal yang perlu hasratnya harus dimengerti. Kecuali dia alpa.
Qur’an sendiri menyebutkan bahwa manusia memang punya tabiat cinta, baik itu kepada wanita, anak-anak, harta, kendaraan atau pun tanah sebagaimana yang tertera dalam QS Ali Imran: 14. Namun cinta itu selalu diberi ketentuan oleh sang Creator; cinta terindah adalah cinta yang menghantarkan manusia ke tempat kembali yang Indah.
Hadist pun demikian; ”Tidaklah seorang hamba beriman hingga aku menjadi orang yang lebih ia cintai daripada keluarganya, hartanya dan manusia semuanya.” (HR. Bukhori).
Memang tidak mudah untuk mengendalikan cinta, sebab karakter cinta itu menghanyutkan; itu artinya akan akan menghempaskan siapa saja yang dapat digapainya, dengan tenaga yang hebat; melanda jiwa, menguras fisik, menguasai pikiran. Oleh karena itu, Islam memang diperuntukkan untuk mereka yang tangguh dan bisa membuat tangguh kepribadian siapa pun yang rela dicelupinya. Jadi, Tips apa pun untuk mengelola cinta, semuanya akan berhulu dari sebuah kejelasan untuk siapa cinta itu bermuara, bagaimana caranya. Jika jawaban itu ditemukan dalam lembaran mushaf dan untaian indah sabda Rosul, tentu akan memiliki akhiran yang berbeda dari jawaban yang ditemukan dalam indahnya roman picisan.
Cinta yang rumit untuk didefinisikan bukanlah alasan bagi manusia untuk tidak bisa mengelola cinta. Kegagalan dan kemampuan mengelola cinta rasanya belum terkait erat dengan kecerdasan dan profesi, ia lebih terkait erat dengan kekuatan jiwa untuk memaksa dan mengendalikan dirinya, supaya cinta selalu ada di dalam fitrah. Dan itulah arti kehadiran Islam untuk mengatur jiwa manusia
Sangat dimungkinkan jika Anda tidak sepakat… no problem, semuanya bisa didiskusikan dengan baik.